Posted in Tak Berkategori

Serba-serbi Valentine’s Day [ Valentine’s Day Edit…

Serba-serbi Valentine’s Day [ Valentine’s Day Edition Entry ]

Berikut serba-serbi hari Valentine yg didapat dari rangkuman beberapa sumber

Valentine’s Day, sekarang jamak kita sebut Hari Kasih Sayang, biasa dijadikan wahana untuk mengungkapkan perhatian pada orang² terkasih. Berbeda dgn pendapat yg menganggapnya sebagai usaha menghomati St. Valentine, konon tradisi itu lahir sebagai penghormatan terhadap sosok wanita, yg dipertahankan kelangsungannya di pedesaan Prancis sampai akhir abad lalu.

Sebelum festival dimulai kaum muda dikelompokkan sesuai jenis kelamin, meski nanti mereka akan bubar dengan berpasangan. Sebuah kereta yg dikendarai figur yg dianggap penting: seorang wanita memimpin prosesi yg megah itu. Selanjutnya, diikuti para rahib (rohaniwan) yg akan mendampingi parade hhingga ke Desa Bissey. Setibanya di kampung yg sesak oleh massa, setiap orang akan minum anggur dan menari sepanjang malam.

Berbeda dgn yg dilakukan kaum muda menjelang malam, pasangan suami-istri tanpa anak justru mengunjungi wanita itu untuk meminta berkat agar beroleh keturunan. Sayangnya, tak ada sumber yg mampu menjelaskan siapa figur wanita itu dan hubungannya dgn St. Valentine.

Hubungan itu bisa ditangkap bila mengacu pada pawai sejarah yang mulai diadakan tahun 1133. Saati itu wanita dipandang punya peran yg lebih menonjol dan digambarkan penuh berahi (nafsu seks tinggi). Dimulai di hutan bagian barat Koeln, Jerman, sebuah kereta serupa kapal akan ditarik melewati daerah pedalaman diiringi sekelompok besar wanita. Meski nampaknya kosong, masyarakat saat itu percaya ada dewi yg menumpang di dalam kereta. Itu tercermin pada reaksi spontan kerumunan orang yg dengan sukacita menyambut kereta itu.

Dalam perayaan yg bisa berlangsung selama 12 hari itu, seorang rahib menggambarkan dengan marah, para wanita itu sudah kehilangan rasa malu. Setelah membuang sifat kewanitaan yang sopan, mereka serempak menari-nari mengitari kereta sambil berteriak-teriak menyanyikan lagu yang berlirik tidak sopan. Menjelang subuh, mereka menyelinap ke tempat rahasia untuk melakukan tindakan yang tidak pantas dengan teman pria. Dalam festival kuno itu, wanita bebas melakukan apa saja, termasuk seks, karena dihormati sebagai simbol kesuburan.

Sejumlah dokumen dari Abad Pertengahan,mengungkapkan kaitan erat antara asal usul nama St. Valentine dgn upaya pihak gereja katolik untuk melarang mereka menyanyikan lagu yg memalukan itu. Mungkin nama itu diambil dari nama pendeta katolik Roma yang martir (mati sahid) tahun 269, atau bisa jadi dari Uskup Valentine dari Umbria, Italia, yang juga martir tahun 273. Anehnya, keduanya meninggal pada tanggal 14 Februari. Mungkin itu pula alasan pemilihan nama mereka, meski tidak di ketahui siapa di antara keduanya yg terpilih digelari orang kudus.

Festival lain yg dianggap jadi acuan muasal Valentine adalah malam festival penyembah berhala yg dirayakan diseluruh Eropa pd masa pemerintahan Romawi Kuno. Saat itu masyarakat Roma memuja dewi musim dingin yg disebut Februa, yg kemudian jadi nama bulan. Pemujaan terhadap dewi pelindung perkawinan, kelahiran anak, dan seks itu biasa dilakukan oleh para wanita yg telah menikah. Namun, perayaan itu menjadi masalah ketika kaum muda memanfaatkannya untuk mendapatkan cinta. Caranya, anak laki-laki akan menarik kupon undian yg di dalamnya tertulis nama anak gadis yg bebas dikencaninya hingga keesokan harinya.

Tentu saja pihak gereja katolik merasa gerah dan bersikukuh agar bisa mengontrol jalannya festival. Festival yg segera diteapkan sebagai bagian perayaan umat Kristen itu merupakan puncak dari rangkaian festival musim dingin. Pada buku-buku kuno, disebutkan, “…di atas kupon undian pendeta tidak menuliskan nama anak gadis melainkan nama orang suci… yang mendapatkan harus melakukan penghormatan dan mengikuti teladan orang suci yg dimaksud.”

Valentine’s Day pun menjadi catatan sejarah bagaimana penguasa gereja katolik berjuang untuk mengontrol festival itu sekaligus menyembunyikan figur sang dewi dengan menamainya St. Valentine.

Anyway, Happy Valentine’s Day.

Penulis:

Mobile Streetphotography enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s