Posted in Fotografi, Kamera

Pentax K1000

Lama juga tidak menulis lagi. Ya memang kegiatan saya lewat internet ini sempat terjeda, belajar dan praktek di lapangan cukup banyak menyita waktu dan ongkos! Setelah mempelajarinya, saya jadi paham sedikit banyak tentang bisnis wedding-prewedding photography beserta tetek-bengeknya. Mudah-mudahan bekal ini bisa jadi modal ketika nanti mulai menjalankan usaha tersebut.

Oke beberapa bulan lalu, saya dengan teman saya yang dokter itu hunting barang bekas di pasar loak daerah Meester Jatinegara. Dari sekian kios barang bekas, ada satu kios yang menjual kamera dan lensa bekas. Pentax K1000Mata saya tertuju pada satu kamera. Kondisi fisiknya tidak begitu bagus, banyak goresan pada body kamera, light-meter tidak berfungsi dan penunjuk film yang bernasib sama. Tapi bagusnya bodynya semuanya metal dan dari nomor serinya, kamera ini masih keluaran pabrikan Jepang, yang mana generasi setelahnya diproduksi di Hong Kong dan Cina. Kamera itu Pentax K1000 dengan lensa Pentax SMC-M 50mm; 1,7. Kondisi lensanya relatif masih bagus. Hanya perlu sedikit dibersihkan. Saya mendapatkan kamera itu dengan harga 200 ribu rupiah saja.

Kamera ini disebut-sebut sebagai kamera pelajar, yang cocok dipakai di kelas-kelas fotografi. Kontrol pada kamera ini full-manual. Tidak ada setelan automatic. Dengan kamera ini, saya betul-betul “dipaksa” untuk memakai feeling ketika hendak mengabadikan sebuah momen dan memperhatikan cahaya (baik itu arah cahaya dan kekuatan cahayanya). Dari kamera ini pulalah, saya mulai mempelajari lagi apa yang pernah saya pelajari dulu.. teori “Sunny f/16”.

Sampai sejauh ini, saya tidak mengalami satu kendala apa pun dengan kamera ini. Meskipun light-meter tidak berfungsi. Berikut hasil gambar yang ditangkap melalui kamera ini;

Left and Forgotten

Gambar ini diambil sekitar jam 1 siang dibawah atap asbes. F/5.6; 1/125; ASA 100. Semua proses mulai dari cuci sampai cetak dilakukan di kamar gelap.

Penulis:

Mobile Streetphotography enthusiast.

16 thoughts on “Pentax K1000

  1. hallo kawan-kawan. iya nih baru muncul lagi.

    @Didi : kapan ya? tempo hari ada yang ngajak ke museum prasasti,Pak.. Ayo diatur aja. Mungkin setelah lebaran kali ya?

    @Dedi : Iya, Ded, belum lagi ketika proses cuci dan cetak di darkroom… bisa lupa waktu.

  2. @isni : ah.. itu kan cuma perkara waktu dan kebiasaan sahaja hehehe.. lama-lama juga bisa.

    @yanti : betul.. kamera itu lumayan bulukan sekarang (apalagi punya saya ini hehehe). kamera jenis inilah yang dipakai Elijah Wood di film “The Faculty”. Btw, kamera jebot atawa kamera tua yang masih berfungsi bisa kamu jual lho.. lumayan, masih ada kolektor kamera tua yang ngumpulin *believe me*

    @daustralala: Pak Daus, Andakah yang saya lihat sedang memotret di kerumunan ketika Didi menikah?

  3. @prada : kamera yang lama gak dipake (apalagi yang berbahan metal) kemungkinan macet sana-sini gede. Ya paling supaya bisa dipake lagi harus diservis dulu dan diminyaki komponen mekaniknya. Dan yang paling penting lagi, lensa kamera jangan dibiarkan ditempat lembab, kalo bisa dicopot dari body kamera (jenis slr).. karena bisa berjamur seperti lensa kamera tele saya di rumah.. hiks.

  4. maap ya sebelumnya,,,aq pengen gabung boleh g?cos kebetulan aq punya pentax k 100…n aq suka motret cma lagi belajar….cm aq g tau harus gmn n ap yang harus aq lakukan?

  5. @ aq dodo lo :

    pentak k100 kalo gak salah itu digital ya?

    kalo punya kamera digital yang harus kamu lakukan adalah memotret, memotret dan memotret.

    Kalo pengalamanku yang dulu, saya belajar tentang komposisi dulu… sambil terus motret (praktek gitu).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s